Jumat, 03 Juni 2016

JURNAL ITSM

Manajemen Layanan TI

Metode Perubahan Manajemen dan Penerapan Praktik Terbaik



Perubahan Prioritas Pedoman dan Tingkat Risiko Perubahan.
 
Risiko
Waktu
 Deskripsi
Tinggi
3 minggu
Sangat sulit atau tidak mungkin untuk backout. Dampak besar jika gagal. Melibatkan beberapa atau sistem yang kritis. Staf besar yang terlibat dalam pelaksanaan. Akan mengganggu hardware, perangkat lunak, data jika gagal.
Menengah
2 minggu
Backout sulit atau panjang. Melibatkan beberapa sistem. Mungkin mengganggu hardware, perangkat lunak, data jika gagal.
Rendah
1 minggu
Dampak kecil pada kegagalan. Melibatkan sistem non-kritis. Backout sederhana atau tidak dibutuhkan.
Darurat
Tidak ada
Persyaratan bisnis langsung dengan tidak ada peringatan. Tinggi tingkat keparahan. Ini harus terjadi akibat masalah keparahan 1 dan telah dimasukkan dalam sistem dengan sejumlah masalah yang ditugaskan.

Contoh:                                      CHANGE  PRIORITY  GRID
Perubahan
---Dampak masalah---
Perubahan menerima prioritas untuk sumber daya dan penjadwalan
Risiko
KRITIS
TINGGI
MENENGAH
RENDAH
TINGGI
+1
1
2
3
MENENGAH
1
2
3
4
RENDAH
2
3
4
5
DARURAT
+1
-
-
-



Menyarankan Perubahan Perencanaan Pengembangan Tanggung Jawab


Catatan: Perubahan Planner/pengembang tanggung jawab berbeda dari orang-orang Koordinator perubahan sehingga mereka terdaftar di sini untuk perbandingan.
Mengubah perencana pengembang: Satu yang permintaan/menciptakan perubahan dipindahkan ke produksi. Tujuan: Untuk menyediakan sistem manajemen perubahan (atau fungsi koordinasi perubahan) dengan berubah deskripsi, tanggal yang diminta dan tujuan dari perubahan. Ini termasuk pengujian dan menyediakan semua dokumen pendukung. Untuk berkomunikasi kesulitan dan/atau keberhasilan proses pembangunan kembali ke sistem manajemen perubahan atau mengubah koordinasi fungsi.
Tanggung jawab:
-    Memperoleh persetujuan dari manajemen mereka sebelum permohonan perubahan dijadwalkan.
-    Review hasil pengujian dari perkembangan perubahan.
-    Mengembangkan dan/atau mempersiapkan perubahan untuk produksi.
-    Lengkap dan menyediakan semua dokumen yang dibutuhkan untuk personil yang sesuai.
-    Update terkena semua prosedur (yaitu operasional, pengguna dan offsite jika berlaku).
-    Mengembangkan prosedur backout dan pemulihan sehingga personil operasi dapat menggunakannya
-    Mengembangkan prosedur tes.
-    Jadwal dan menjalankan prosedur tes.
-    Gunakan hasil tes sebagai bagian dari perubahan dokumentasi.
-    Memberitahukan semua individu yang akan terpengaruh oleh perubahan
-    Update sistem perubahan (atau memberitahukan perubahan koordinasi) seluruh proses pembangunan.
-    Beritahu manajemen dipengaruhi oleh perubahan penyesuaian apapun dengan jadwal yang direncanakan.
  
Perubahan yang Disarankan Koordinator Tanggung Jawab

Perubahan Manajemen Koordinator: Orang yang bertanggung jawab untuk menjaga proses perubahan manajemen.
Tujuan: Untuk memastikan bahwa kebijakan dan prosedur ditaati dan bahwa manajemen senior memiliki informasi (yaitu laporan, masukan) yang dibutuhkan untuk memastikan bahwa perubahan manajemen pendekatan adalah pertemuan semua sasaran.
Tanggung jawab:
-    Kursi Rapat manajemen perubahan.
-    Efektivitas sistem manajemen.
-    Merevisi prosedur perubahan jika diperlukan dan menyarankan manajemen.
-    Bertindak sebagai focal point untuk saran mengenai prosedur perubahan.
-    Menghasilkan statistik dan tren laporan untuk manajemen menggunakan untuk menganalisis perubahan
-    Menyarankan manajemen prosedural pelanggaran atau kelalaian melalui laporan manajemen.
-    dari salinan mereka sendiri untuk penggunaan pribadi.
-    Pastikan keberhasilan perubahan dan korelasi yang asli permintaan pengguna.

Kesimpulan :


         Berbagai upaya dilakukan dan pendekatan telah dilakukan untuk memecahkan masalah/resiko yang timbul akibat adanya perubahan. Oleh karena itu untuk menghadapi perubahan tersebut kita perlu melakukan manajemen perubahan yang lainnya, berarti upaya yang dilakukan untuk mengelola akibat-akibat yang ditimbulkan karena terjadinya perubahan dalam organisasi.
          Tidak banyak pula orang yang suka akan perubahan, namun walaupun begitu perubahan tidak bisa dihindari. Karena hakikatnya memang seperti itu maka diperlukan satu manajemen perubahan agar proses dan dampak dari perubahan tersebut mengarah pada titik positif.

Nama Anggota :
Bagus Yogatama       12114013
M. Junda Naufal       17114385
Noris Bennardo        18114015


Translate Journal
Sumber Jurnal

Jumat, 01 April 2016

ITIL dan COBIT

Pengertian & posisi hubungan antara ITIL & COBIT


Pengertian ITIL

       ITIL atau Information Technology Infrastructure Library (Bahasa Inggris, diterjemahkan Pustaka Infrastruktur Teknologi Informasi), adalah suatu rangkaian konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi teknologi informasi (TI).

       ITIL diterbitkan dalam suatu rangkaian buku yang masing-masing membahas suatu topik pengelolaan TI. Nama ITIL dan IT Infrastructure Library merupakan merek dagang terdaftar dari Office of Government Commerce (OGC) Britania Raya. ITIL merupakan kumpulan dari best practice tata kelola layanan teknologi informasi diberbagai bidang dan industri, dari mulai manufaktur sampai finansial, industri besar dan kecil, swasta dan pemerintah.

        Walaupun dikembangkan sejak dasawarsa 1980-an, penggunaan ITIL baru meluas pada pertengahan 1990-an dengan spesifikasi versi keduanya (ITIL v2) yang paling dikenal dengan dua set bukunya yang berhubungan dengan ITSM (IT Service Management), yaitu Service Delivery (Antar Layanan) dan Service Support (Dukungan Layanan).

Pengertian COBIT

        COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian yang dibuat oleh Information Systems Audit and Control Association (ISACA) dan IT Governance Institute (ITGI) pada tahun 1992.

         COBIT Framework adalah standar kontrol yang umum terhadap teknologi informasi, dengan memberikan kerangka kerja dan kontrol terhadap teknologi informasi yang dapat diterima dan diterapkan secara internasional.

        Cobit bermanfaat bagi manajemen untuk membantu menyeimbangkan antara resiko dan investasi pengendalian dalam sebuah lingkungan IT yang sering tidak dapat diprediksi. Bagi user, ini menjadi sangat berguna untuk memperoleh keyakinan atas layanan keamanan dan pengendalian IT yang disediakan oleh pihak internal atau pihak ketiga. Sedangkan bagi Auditor untuk mendukung atau memperkuat opini yang dihasilkan dan memberikan saran kepada manajemen atas pengendalian internal yang ada.

Perbedaan Serta Penggunaan ITIL dan COBIT.

       Sebagaimana kita ketahui COBIT atau Control OBjective of Information and related Technology merupakan sebuah pedoman bagi pengelolaan IT termasuk input, proses, output, serta process control yang terbagi kedalam 4 obyektif dan 34 area kunci. Masing-masing obyektif tersebut adalah: Planing & Organization (PO), Acquisition & Implementation (AI), Delivery & Support (DS) dan Monitoring.

Sedangkah ITIL merupakan sebuah kerangka pengelolaan layanan IT yang terbagi kedalam proses dan fungsi. Dua area/modul dalam ITIL, yaitu Service Support dan Delivery kemudian menjadi CORE dalam ITIL versi 2, yang kemudian kita kenal dengan IT Service Management.

Apabila dilihat dari posisi kedua pendekatan tersebut, maka dapat kita lihat hubungan secara langsung diantara Delivery & Support (COBIT) dan ITSM. Dimana COBIT mengatur masalah obyektif yang harus dicapai oleh sebuah organisasi dalam memberikan layanan IT, sedangkan ITIL merupakan best practice cara-cara pengelolaan IT untuk mencapai obyektif organisasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa COBIT dan ITIL merupakan dua pendekatan dalam IT Governance dan tata kelola layanan teknologi informasi yang saling melengkapi. Apabila dibedah lebih jauh, relavansi ITIL tidak hanya berhenti di area Deliveri & Support, tetapi bisa kita petakan ke area COBIT lainnya.

Bagi anda yang sudah menggunakan COBIT sebagai standar kontrol terhadap pengelolaan IT, anda dapat juga mengimplementasikan ITIL dalam upaya meningkatkan tingkat kematangan IT perusahaan anda (Maturity Level). Bagi yang belum mengimplementasikannya dapat mengkombinasikan kedua pendekatan ini karena hubungannya satu dengan yang lain adalah saling melengkapi.

Tabel dari framework COBIT dan ITIL yang saling melengkapi satu dengan lainnya :

https://itilindo.files.wordpress.com/2009/03/cobit-and-itil2.jpg?w=640

Sumber Referensi :
http://itilindo.com/2009/03/17/posisi-itil-dan-cobit/
http://itilindo.com/2008/11/21/apa-itu-itil/
https://id.wikipedia.org/wiki/ITIL
http://www.kajianpustaka.com/2014/02/pengertian-sejarah-dan-komponen-cobit.html


Link artikel tentang SIM dan Manajemen Layanan SI/TI :
http://mjundanaufal.blogspot.co.id/2016/04/hubungan-sim-dengan-manajemen-layanan.html

Hubungan SIM Dengan Manajemen Layanan SI / TI

Hubungan SIM Dengan Manajemen Layanan SI / TI


Pengertian Sistem Informasi Manajemen

        Sistem informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.

        Dengan kata lain SIM adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang sama. Para pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal, perusahaan atau sub unit dibawahnya. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan ouput dari model matematika. Output informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.Perancangan, penerapan dan pengoperasian SIM adalah mahal dan sulit. Upaya ini dan biaya yang diperlukan harus ditimbang-timbang.

        Sistem informasi manajemen atau disingkat dengan SIM menjadi tolak ukur keputusan organisasi atau kelompok. Melalui sistem informasi manajemen, sebuah bidang pekerjaan yang menyangkut analisis manajemen dapat diselesaikan. Dibalik perlunya ilmu sistem informasi manajemen, ada tujuan pentingnya penggunaan ilmu tersebut. Tiga tujuan penting yang harus dicermati dari sistem informasi antara lain untuk perhitungan harga, perencanaan, serta pengambilan dari keputusan. Dengan memegang tiga tujuan tersebut, maka analisis yang dilakukan dapat dikerjakan dan ditemukan penyelesaiannya.
      
Ilmu sistem informasi manajemen terbilang dapat diterapkan secara luas. Tidak hanya dari manajemen sendiri, dapat pula dipelajari dalam ilmu kedokteran, pendidikan, industri, dan lainnya. Berbicara mengenai pengertian mengenai sistem informasi manajemen itu sendiri, sebenarnya sudah ada sejak tahun enam puluhan. Namun karena perkembangan ilmu pengetahuan, maka terjadilah perkembangan definisi atau pengertian mengenai sistem informasi manajemen. Dan berikut tiga pengertian yang dijabarkan berbeda dengan inti yang sama.

Pengertian yang Merujuk Pada Tahun 60-an

        Sistem informasi manajemen adalah sebuah sistem sebagai penyedia dari layanan informasi. Informasi tersebut berguna dalam memberikan dukungan melalui lingkup pengoperasian, lingkup manajemen, serta lingkup keputusan organisasi atau kelompok tertentu. Biasanya sistem informasi manajemen ini sendiri sangat diperlukan dalam memanajeri sebuah organisasi atau kelompok dalam melakukan pekerjaannya. Sehingga dapat menjadi evaluasi bagi organisasi atau kelompok dalam melakukan analisis manajemen tersebut.

Pengertian yang Merujuk Pada Tahun 1993

        Sistem informasi manajemen adalah gabungan dari sekumpulan perangkat lunak dan perangkat keras untuk merancang sistem transformasi beberapa data yang dikumpulkan. Kemudian dijadikan satu sebagai sumber informasi penting untuk menemukan solusi atau penyelesaian. Pengertian mengenai sistem informasi manajemen tahun 1993 merujuk pada pengertian dari dua penulis yaitu, Bodnar serta Hopwood. Pengertian tersebut dituangkan di buku yang berjudul Accounting Information Sistem.

Pengertian yang Merujuk Pada Tahun 1999

        Pengertian Sistem informasi manajemen adalah suatu sistem penting dalam melakukan pengumpulan, proses, penyimpanan, penganalisisan data, hingga penyebaran mengenai data tersebut. Sebagai bentuk penyampaian informasi yang mengarah spesifik pada tujuan yang dimaksud. Pengertian mengenai sistem informasi manajemen tahun 1999 merujuk pada tiga penulis yaitu, Turban, McLean, dan juga Waterbe. Dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul Information Technology for Management Making Connection for Strategies Advanteges. Dan buku tersebut juga sudah diterbitkan dalam buku terjemahan.

        Semua pengertian yang disebutkan di atas mengarah pada tiga proses manajemen yang tidak boleh dilupakan. Yaitu, perencanaan, pengendalian, serta pengambilan keputusan. Perencanaan penting untuk melakukan formulasi terkait tujuan yang hendak dicapai.Pengendalian penting untuk melakukan implementasi dan monitoring dari pelaksanaan formulasi tersebut. Pengambilan keputusan penting untuk melakukan pemikiran yang bijak. Menentukan mana dari beberapa alternatif yang dibuat dengan mengandalkan formulasi dan monitoring terbaik. Ilmu sistem informasi manajemen akan dapat dijalankan asalkan sumber daya manusia dalam organisasi atau kelompok tersebut memang dapat diandalkan. Tanpa memiliki sumber daya manusia yang paham dengan ilmu pengetahuan sistem informasi manajemen, maka akan sulit dilakukan. Sumber daya manusia sendiri juga penting untuk dapat menerapkan pengertian dari sistem informasi manajemen. Berkaitan dengan klasifikasi dari jabatan, analisis kerja pegawai, standar mutu kerja sesuai manajemen, hingga data atau informasi yang menyangkut ilmu manajemen. Sehingga penting untuk memahami terlebih dahulu mengenai pengertian dari sistem informasi manajemen. Ke depan dapat lebih membantu dalam menerapkan kinerja yang menerapkan aplikasi dari sistem informasi manajemen.

Pengertian Manajemen Layanan SI/TI

ITSM (Information Technology Service Management, Manajemen Layanan Teknologi Informasi) adalah suatu metode pengelolaan sistem teknologi informasi (TI) yang secara filosofis terpusat pada perspektif konsumen layanan TI terhadap bisnis perusahaan. ITSM merupakan kebalikan dari pendekatan manajemen TI dan interaksi bisnis yang terpusat pada teknologi. Istilah ITSM tidak berasal dari suatu organisasi, pengarang, atau pemasok tertentu dan awal penggunaan frasa inipun tidak jelas kapan dimulainya.

ITSM berfokus pada proses dan karenanya terkait dan memiliki minat yang sama dengan kerangka kerja dan metodologi gerakan perbaikan proses (seperti TQM, Six Sigma, Business Process Management, dan CMMI). Disiplin ini tidak memedulikan detail penggunaan produk suatu pemasok tertentu atau detail teknis suatu sistem yang dikelola, melainkan berfokus pada upaya penyediaan kerangka kerja untuk menstrukturkan aktivitas yang terkait dengan TI dan interaksi antara personel teknis TI dengan pengguna teknologi informasi.

ITSM umumnya menangani masalah operasional manajemen teknologi informasi (kadang disebut operations architecture, arsitektur operasi) dan bukan pada pengembangan teknologinya sendiri. Contohnya, proses pembuatan perangkat lunak komputer untuk dijual bukanlah fokus dari disiplin ini, melainkan sistem komputer yang digunakan oleh bagian pemasaran dan pengembangan bisnis di perusahaan perangkat lunak-lah yang merupakan fokus perhatiannya. Banyak pula perusahaan non-teknologi, seperti pada industri keuangan, ritel, dan pariwisata, yang memiliki sistem TI yang berperan penting, walaupun tidak terpapar langsung kepada konsumennya.

Sesuai dengan fungsi ini, ITSM sering dianggap sebagai analogi disiplin ERP pada TI, walaupun sejarahnya yang berakar pada operasi TI dapat membatasi penerapannya pada aktivitas utama TI lainnya seperti manajemen portfolio TI dan rekayasa perangkat lunak.

Hubungan SIM Dengan Manajemen Layanan SI / TI


Manajemen layanan Sistem informasi Teknologi Informasi adalah Metode yang digunakan untuk mengelola dan mengacu pada pelaksanaan kualitas layanan TI/SI yang memenuhi kebutuhan bisnis, Layanan manajemen TI/SI. Kegiatan ini dilakukan oleh penyedia layanan TI/SI melalui gabungan yang tepat dari teknologi, manusia, proses dan informasi. berfokus pada pemberian kerangka kerja untuk struktur TI/SI yang terkait kegiatan dan interaksi tenaga teknis TI/SI dengan penggunanya.

Maka dapat disimpulkan bahwa SIM sebagai wadah yang digunakan oleh manajemen layanan SI/TI untuk mengembangkan bisnis, Oleh karena itulah Manajemen sangat diperlukan khususnya SIM dalam hal bisnis.

Sumber Referensi :
http://lifeblogid.com/2015/05/26/pengertian-sistem-informasi-manajemen-sim/
https://id.wikipedia.org/wiki/ITSM
http://pengertianmanajemen.net/pengertian-sistem-informasi-manajemen/

Link artikel tentang ITIL dan COBIT :
mjundanaufal.blogspot.com/2016/04/itil-dan-cobit.html

Kamis, 02 Juli 2015

Hubungan Antara Manusia dan Kebudayaan

Hubungan Antara Manusia dan Kebudayaan


Hubungan Antara Manusia dan Kebudayaan

 
           Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang manusia dan kebudayaan. Menurut saya pribadi, manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan tuhan. Manusia adalah makluk yang memiliki jasad/raga yang dapat bergerak, juga memiliki hawa nafsu dan serta memiliki daya untuk mencari kebenaran. Kehidupan manusia tidak luput dari kebudayaan. Dimana setiap kelompok manusia atau daerah memiliki budaya masing masing. Kebudayaan itu sendiri bersifat abstrak, tetapi kebudayaan dapat mempengaruhi kehidupan manusia sehari-hari. Dan semua tergantung pada pemikiran atau gagasan tiap masing-masing manusia. 

            Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Definisi Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

            Gagasan tiap manusia berbeda, seperti contohnya budaya bangsa timur, yang identik dengan ke ramah tamahannya. Seperti di Indonesia yang di kenal dengan jiwa gotong royong. Tetapi menurut saya, budaya Indonesia hampir terlupakan. Dikarenakan banyak budaya asing yang masuk ke Indonesia, dan warga Indonesia terlalu mudah terpengaruh dengan hal baru. Kebudayaan juga dapat kita nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan.

             Gambar diatas ini juga merupakan salah satu hubungan manusia dengan kebudayaan yang memadukan antara lagu, tarian, dan bahasa dari suku gayo, Aceh. Kebudayaan bisa berasal dari sebuah karya seni. Seperti halnya saja sebuah karya seni tari. Di Indonesia karya seni tari merupakan sebuah aspek yang harus dilestarikan keberadaannya. Namun pada kenyataannya generasi sekarang kurang merespon untuk melestarikan karya-karya seni tari di Indonesia. 

              Banyak dari generasi sekarang yang lebih menyukai tari-tarian dari luar atau tarian-tarian barat seperti Gangnam Style, Shuffle Dance, Harlem Shake dan sebagainya yang sudah mendunia. Padahal di Indonesia sendiri memiliki gerakan tarian yang mudah dan mungkin jika kita perkenalkan ke daerah luar juga mampu mendunia seperti poco-poco, jaipong, dan sebagainya.

              Dari contoh-contoh keterkaitan antara manusia dan kebudayaan diatas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara manusia dan kebudayaan memang tidak dapat dipisahkan dengan satu sama lainnya. Hendaknya generasi sekarang harus lebih melestarikan dan mengembangkan kebudayaan-kebudayaan positif yang menjadi ciri khas di Indonesia. Sehingga tidak mudah terpengaruh oleh budaya-budaya dari luar atau budaya barat.

Rabu, 01 April 2015

Review Film Lari Dari Blora

 
Genre: Drama
Sutradara: Akhlis Suryapati
Penulis:Akhlis Suryapati
Produser: Egy Massaidah
Produksi: Ibar Pictures Homepage
Pemain: Ws Rendra, Ardina Rasti, Annika Kuyper, Tina Astari, Soultan Saladin, Iswar Kelana

Review

Film ini menceritakan kebudayaan masyarakat yang berada didaerah Samin, daerah yang berada diantara pati-blora jawa tengah, yang dimana masyarakatnya sangat beradab tapi tidak terikat oleh aturan pemerintah dan cenderung menutup diri dari dunia luar.
Bermula dari seorang gadis yang bernama cintya,( Annika Kuper) seorang gadis yang mewakili LSM asin yang berasal dari Negara Amerika mengadakan penelitian mengenai kebudayaan yang ada di desa Samin, di desa Samin Cintya mendapatkan bantuan dari tokoh Masyarakat yang sangat dihormati dan didengar perkataannya oleh masyarakat didesa Samin tersebut, Mbah(W.S Rendra) panggilan untuk orang ini, Cintya banyak bertanya kepada Mbah mengenai kebudayaan masyarakat setempat dan mengapa mereka tidak mengikuti aturan pemerintah. Ramadian(Iswar Kelana) adalah seorang guru yang senantiasa menemani dan sebagai fasilitator Cintya dalam meneliti kebudayaan Samin, Ramadian adalah seorang guru yang memiliki tekad kuat untuk mengubah pola pikir masyarakat Samin yang hanya belajar dari kehidupan tanpa mau menyekolahkan pemudanya atau anaknya dibangku formal, sehingga mereka semua buta huruf. Namun tindakan guru ini ditentang oleh pak lurah, karena pak lurah berpikir masyarakat Samin harus tetap dibiarkan seperti itu, karena Masyarakat Samin adalah sebuah cagar budaya yang memiliki ke-khasan tersendiri, dengan begitu akan menarik banyak pengunjung di desa itu, mulai dari Mahasiswa, LSM dan Peneliti, dan dengan begitu akan mengundang dana bantuan untuk kebudayaan ini. 
 
Kedekatan Cintya dengan Ramadian menimbulkan kecemburuan bagi pacar Ramadian Hasanah(Ardina Rasti) yang juga sebagai guru Sekolah Dasar di tempat Ramadian mengajar, kecemburuan Hasanah akan kehadiran Cintya membuktikan bahwa adanya unsur drama romantis di film perdana sutradara Akhlis.
 
Di masyarakatn Samin pernikahan terjadi ketika sepasang kekasih saling mencintai, dan sang lelaki meminta ijin kepada orang tua gadis untuk menjadi menikahinya, hanya itu saja proses pernikahan dari masyrakat Samin, yang tidak membutuhkan proses di Kantor Urusan Agama dan Catatan Sipil
Masyarakat Samin lebih mengutamakan keharmonisan hidup dan keselarasan dengan alam, saling berbagi mencerminkan kehidupan mereka, walaupun mereka semua adalah rakyat yang miskin, namun mereka tidak pelit dalam memberi ke sesama, dengan begitu didesa ini hampir tidak pernah terjadi pencurian ataupun kehilangan barang, karena salah satu prinsip mereka ialah “untuk apa mencuri, kalau diminta saja akan diberi”.
Dan satu lagi yang dimaksud dengan Lari dari Blora ialah dalam film ini 2 tokoh yang bernama Bongkeng (Andreano Phillip) dan Sudrun (Oktav Kriwil) merupakan buronan dari lembaga pemsyarakatan yang ada di desa Blora, mereka melarikan diri yang kemudian bersembunyi di desa Samin, di Samin mereka mendapatkan banyak pelajaran dari penduduk setempat, suatu malam mereka kelaparan dan berkeliling mencari malam, tibanya di rumah Mbah mereka melihat sejumlah pisang dan kelapa yang masih segar, ketika mereka ingin mengambil buah-buahan itu si Mbah pun langsung muncul dan kemudian berkata “untuk apa mencuri? Wong diminta aja diberi”. 
Sebelumnya Mbah telah mendapat informasi dari polisi setempat bahwa ada 2 buronan yang dimungkinkan melarikan diri di desa Samin ini, namun ketika Mbah memergoki kedua buronan yang ingin mencuri buah-buahannya, ia tidak melaporkannya kepada polisi, malah ia mengajak masuk kerumahnya dan mengajaknya makan dan kemudian menasehati mereka agar tetap menjadi orang baik, karena orang baik tidak akan menderita dalam hidupnya.
Tutur kata seorang Mbah sungguh menyentuh dalam film ini, sikap tolong menolong dan menjauhkan diri dari berburuk sangka di Masyarakat Samin mencerminkan kalau mereka memang memiliki nilai lebih dari dunia luar, namun sikap yang tidak patuh terhadap pemerintahan adalah sebuah kesalahan yang mereka tidak sadari.
Nilai Kebudayaan
Film ini menceritakan kebudayaan masyarakat yang berada didaerah Samin, daerah yang berada diantara pati-blora jawa tengah, yang dimana masyarakatnya sangat beradab tapi tidak terikat oleh aturan pemerintah dan cenderung menutup diri dari dunia luar. Saminisme adalah ajaran para religious yang menekankan ajaran kebathinan, gerakan pembangkangan menyeluruh melawan kolonial Belanda yang merampas tanah-tanah warga untuk perluasan hutan jati. Sejak saat itu ajaran Samin menyebar luas ke masyarakat Madiun, Blora, Pati, Bojonegoro dan daerah lain di Indonesia. Suku samin memang menarik, dan itu mengundang peneliti asing asal Amerika dari LSM untuk meneliti dan mengenal lebih jauh tentang suku Samin

Senin, 26 Januari 2015

Pengertian, Fungsi dan Keterkaitan Agama Dalam Masyarakat

Pengertian, Fungsi dan Keterkaitan Agama Dalam Masyarakat


Pengertian Agama

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan. Banyak agama memiliki narasi, simbol dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan / atau menjelaskan asal usul kehidupan atau alam semesta. Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan Sifat Manusia, orang memperoleh moralitas, etika, hukum agama atau gaya hidup yang disukai. Menurut beberapa perkiraan, ada sekitar 4.200 agama di dunia.

Banyak agama yang mungkin telah mengorganisir perilaku, kependetaan, definisi tentang apa yang merupakan kepatuhan atau keanggotaan, tempat-tempat suci, dan kitab suci. Praktek agama juga dapat mencakup ritual, khotbah, peringatan atau pemujaan tuhan, dewa atau dewi, pengorbanan, festival, pesta, trance, inisiasi, jasa penguburan, layanan pernikahan, meditasi, doa, musik, seni, tari, masyarakat layanan atau aspek lain dari budaya manusia. Agama juga mungkin mengandung mitologi.

Kata agama kadang-kadang digunakan bergantian dengan iman, sistem kepercayaan atau kadang-kadang mengatur tugas; Namun, dalam kata-kata Emile Durkheim agama berbeda dari keyakinan pribadi dalam bahwa itu adalah "sesuatu yang nyata sosial" Emile Durkheim juga mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, mencapai rohani yang sempurna kesuciannya. Sebuah jajak pendapat global 2012 melaporkan bahwa 59% dari populasi dunia adalah beragama, dan 36% Tidak Beragama termasuk 13% yang ateis, dengan penurunan 9 persen pada keyakinan agama dari tahun 2005. Rata-rata, wanita lebih religius daripada laki-laki . Beberapa orang mengikuti beberapa agama atau beberapa prinsip-prinsip agama pada saat yang sama, terlepas dari apakah atau tidak prinsip-prinsip agama mereka mengikuti tradisional yang memungkinkan untuk terjadi unsur sinkretisme .

Fungsi Agama

  • Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok
  • Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
  • Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah
  • Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan
  • Pedoman perasaan keyakinan
  • Pedoman keberadaan
  • Pengungkapan estetika (keindahan)
  • Pedoman rekreasi dan hiburan
  • Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.

Ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari dalam mendiskusikan fungsi agama dalam masyarakat, yaitu kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian. Ketiga aspek itu merupakan kompleks fenomena sosial terpadu yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku manusia, sehingga timbul pertanyaan sejauh mana fungsi lembaga agama memelihara sistem, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan adalah suatu sistem, atau sejauh mana agama dapat mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan fungsinya. Pertanyaan tersebut timbul karena sejak dulu hingga sekarang, agama masih ada dan mempunyai fungsi, bahkan memerankan sejumlah fungsi.

Manusia yang berbudaya, menganut berbagai nilai, gagasan, dan orientasi yang terpola mempengaruhi perilaku, bertindak dalam konteks terlembaga dalam lembaga situasi di mana peranan dipaksa oleh sanksi positif dan negatif serta penolakan penampilan, tapi yang bertindak, berpikir dan merasa adalah individu itu sendiri.

Teori fungsionalisme melihat agama sebagai penyebab sosial agama terbentuknya lapisan sosial, perasaan agama, sampai konflik sosial. Agama dipandang sebagai lembaga sosial yang menjawab kebutuhan dasar yang dapat dipenuhi oleh nilai-nilai duniawi, tapi tidak menguntik hakikat apa yang ada di luar atau referensi transdental.

Aksioma teori di atas adalah, segala sesuatu yang tidak berfungsi akan hilang dengan sendirinya. Teori tersebut juga memandang kebutuhan “sesuatu yang mentransendensikan pengalaman” sebagai dasar dari karakteristik eksistensi manusia. Hali itu meliputi, Pertama, manusia hidup dalam kondisi ketidakpastian juga hal penting bagi keamanan dan kesejahteraannnya berada di luar jangkauan manusia itu sendiri. Kedua, kesanggupan manusia untuk mengendalikan dan mempengaruhi kondisi hidupnya adalah terbatas, dan pada titik tertentu akan timbul konflik antara kondisi lingkungan dan keinginan yang ditandai oleh ketidakberdayaan. Ketiga, manusia harus hidup bermasyarakat di mana ada alokasi yang teratur dari berbagai fungsi, fasilitas, dan ganjaran.

Jadi, seorang fungsionalis memandang agama sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengatasi diri dari ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan; dan agama dipandang sebagai mekanisme penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur-unsur tersebut.


Fungsi agama terhadap pemeliharaan masyarakat ialah memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat. Contohnya adalaha sistem kredit dalam masalah ekonomi, di mana sirkulasi sumber kebudayaan suatu sistem ekonomi bergantung pada kepercayaan yang terjalin antar manusia, bahwa mereka akan memenuhi kewajiban bersama dengan jenji sosial mereka untuk membayar. Dalam hal ini, agama membantu mendorong terciptanya persetujuan dan kewajiban sosial dan memberikan kekuatan memaksa, memperkuat, atau mempengaruhi adat-istiadat.


Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka norma pun dikukuhkan dengan sanksi sakral. Sanski sakral itu mempunyai kekuatan memaksa istimewa karena ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi, supramanusiawi, dan ukhrowi.


Fungsi agama di sosial adalah fungsi penentu, di mana agama menciptakan suatu ikatan bersama baik antara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang mempersatukan mereka.


Fungsi agama sebagai sosialisasi individu adalah, saat individu tumbuh dewasa, maka dia akan membutuhkan suatu sistem nilai sebagai tuntunan umum untuk mengarahkan aktifitasnya dalam masyarakat. Agama juga berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya. Orang tua tidak akan mengabaikan upaya “moralisasi” anak-anaknya, seperti pendidikan agama mengajarkan bahwa hidup adalah untuk memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut harus beribadah secara teratur dan kontinu.

Masalah fungsionalisme agama dapat dianalisis lebih mudah pada komitmen agama. Menurut Roland Robertson (1984), dimensi komitmen agama diklasifikasikan menjadi :


A. Dimensi keyakinan mengandug perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran ajaran-ajaran tertentu.


B. Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secra nyata. Ini menyangkut hal yang berkaitan dengan seperangkat upacara keagamaan, perbuatan religius formal, perbuatan mulia, berbakti tidak bersifat formal, tidak bersifat publik dan relatif spontan.


C. Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung dan subjektif tentang realitas tertinggi, mampu berhubungan dengan suatu perantara yang supernatural meskipun dalam waktu yang singkat.


D. Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan bahwa orang-orang yang bersikap religius akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi keagamaan mereka.


E. Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki konsekuensi paling penting bagi agama. Akibatnya adalah masyarakat makin terbiasa menggunakan metode empiris berdasarkan penalaran dan efisiensi dalam menanggapi masalh kemanusiaan, sehingga lingkungan yang bersifat sekular semakin meluas dan sering kali dengan pengorbanan lingkungan yang sakral. Menurut Roland Robertson, watak masyarakat sekular tidak terlalu memberikan tanggapan langsung terhadap agama. Misalnya, sediktnya peranan dalam pemikiran agama, praktek agama, dan kebiasaan-kebiasaan agama.


Umumnya, Kecenderungan sekularisasi mempersempit ruang gerak kepercayaan-kepercayaan dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang terbatas pada aspek yang lebih kecil dan bersifat khusus dalam kehidupan masyarakat dan anggota-anggotanya.

Hal itu menimbulkan pertanyaan apakahan masyarakat sekuler mampu mempertahankan ketertiban umum secara efektif tanpa adanya kekerasan institusional apabila pengaruh agama sudah berkurang.

Kaitan Agama & Masyarakat

Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan sosial, argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang Tuhan dan kesadaran akan maut menimbulkan relegi dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sampai pada pengalaman agamanya para tasauf.

Bukti-bukti itu sampai pada pendapat bahwaagama merupakan tempat mencari makna hidup yang final dan ultimate. Agama yang diyakini, merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosialnya, dan kembali pada konsep hubungan agama dengan masyarakat, di mana pengalaman keagamaan akan terefleksikan pada tindakan sosial dan invidu dengan masyarakat yang seharusnya tidak bersifat antagonis.

Peraturan agama dalam masyarakat penuh dengan hidup, menekankan pada hal-hal yang normative atau menunjuk kepada hal-hal yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan. Contoh kasus akibat tidak terlembaganya agama adalah “anomi”, yaitu keadaan disorganisasi sosial di mana bentuk sosial dan kultur yang mapan jadi ambruk. Hal ini, pertama, disebabkan oleh hilangnya solidaritas apabila kelompok lama di mana individu merasa aman dan responsive dengan kelompoknya menjadi hilang. Kedua, karena hilangnya consensus atau tumbangnya persetujuan terhadap nilai-nilai dan norma yang bersumber dari agama yang telah memberikan arah dan makna bagi kehidupan kelompok.

Penjelasan yang bagaimanapun adanya tentang agama, tak akan pernah tuntas tanpa mengikutsertakan aspek-aspek sosiologisnya. Agama, yang menyangkut kepercayaan kepercayaan serta berbagai prakteknya, benar-benar merupakan masalah sosial dan pada saat ini senantiasa ditemukan dalam setiap masyarakat manusia. Karena itu segera lahir pertanyaan tentang bagaimana seharusnya dari sudut pandang sosiologis.

Dalam pandangan sosiologi, perhatian utama terhadap agama adalah pada fungsinya terhadap masyarakat. Istilah fungsi seperti kita ketahui, menunjuk kepada sumbangan yang diberikan agama, atau lembaga sosial yang lain, untuk mempertahankan (keutuhan) masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus-menerus. Dengan demikian perhatian kita adalah peranan yang telah ada dan yang masih dimainkan.Emile Durkheim sebagai sosiolog besar telah memberikan gambaran tentang fungsi agama dalam masyarakat. Dia berkesimpulan bahwa sarana-sarana keagamaan adalah lambang-lambang masyarakat, kesakralan bersumber pada kekuatan yang dinyatakan berlaku oleh masyarakat secara keseluruhan bagi setiap anggotanya, dan fungsinya adalah mempertahankan dan memperkuat rasa solidaritas dan kewajiban sosial.

Agama telah dicirikan sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublime; sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu; sebagai sesuatu yang memuliakan dan yang membuat manusia beradab. Sebenarnya lembaga keagamaan adalah menyangkut hal yang mengandung arti penting tertentu, menyangkut masalah aspek kehidupan manusia, yang dalam transendensinya, mencakup sesuatu yang mempunyai arti penting dan menonjol bagi manusia. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa lembaga-lembaga keagamaan merupakan bentuk asosiasi manusia yang paling mungkin untuk terus bertahan.

Agama di Indonesia, mengambil peranan penting dalam membentuk masyarakat sipil, khususnya sebagai masyarakat politik. Perkembangan masyarakat sipil ini ternyata lebih cepat dari pada perkembangan masyarakat ekonomi. Sebagai dampaknya, peranan negara lebih menonjol dan justru mengambil peran sebagai agen perubahan sosial yang berdampak terbentuknya masyarakat sipil, dari arti mencakup masyarakat politik maupun ekonomi.

Kecenderungan yang dominan di Indonesia adalah idealisasi negara, sebagai wadah nilai-nilai tertinggi. Perjuangan organisasi-organisasi keamanan ikut mendorong terbentuknya Negara-Ideal, atau Negara-Integralistik sebagai kompromi dari konflik antara sekularisme dan teokrasi. Dalam Negara-Ideal tersebut, agama dicegah untuk dominan dalam mewarnai corak negara, tetapi diberi kesempatan untuk masuk dan membentuk nilai-nilai ideal itu ke dalam wadah negara.

Namun, kecenderungan idealistik dan integralistik bisa memarginalkan peranan agama. Marginalisasi agama berarti pengeringan sumber-sumber nilai. Karena itu nilai-nilai keagamaan perlu dikembangkan dengan memperkuat masyarakat sipil, sebagai benteng (bastion) kepentingan-kepentingan dan aspirasi masyarakat, termasuk masyarakat agama, yang kedudukannya cukup dominan dalam masyarakat Indonesia.
Sumber :
https://rakhmawatinoor27.wordpress.com/2013/01/10/kaitannya-agama-dalam-masyarakat

Minggu, 11 Januari 2015

Pengertian dan Keterkaitan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Kemiskinan

A. Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Kemiskinan

1. Ilmu Pengetahuan

1.1. Pengertian ilmu pengetahuan
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Definisi menurut para ahli :

1. The Liang Gie 1991
Sekumpulan proposisi sistematis yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang benar dengan ciri pokok yang bersifat general, rational, objektif, mampu diuji kebenarannya (verifikasi objektif), dan mampu menjadi milik umum.

2. C. Verhaak
Pengetahuan yang diatur secara sistematis dan langkah- langkah pencapaiannya dipertanggung-jawabkan secara teoritis.

3. J. Haberer 1972
Suatu hasil aktivitas manusia yang merupakan kumpulan teori, metode dan praktek dan menjadi pranata dalam masyarakat.

4. J.D. Bernal 1977
Suatu pranata atau metode yang membentuk keyakinan mengenai alam semesta dan manusia.

5. E. Cantote 1977
Suatu hasil aktivitas manusia yang mempunyai makna dan metode.1977 -1992

6. Cambridge-Dictionary 1995
Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang benar, mempunyai objek dan tujuan tertentu dengan sistim, met ode untuk berkembang serta berlaku universal yang dapat diuji kebenarannya.

1.2. Empat hal sikap yang ilmiah
Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan obyektif diperlukan sikap yang bersifat
ilmiah, yang meliputi empat hal yaitu :

1. Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga menacapi pengetahuan ilmiah yang obeyktif.
2. Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh
    fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada
3. Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap indera dam
    budi yang digunakan untuk mencapai ilmu
4. Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian,
    namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.

2. Teknologi

2.1. Pengertian teknologi
Teknologi adalah satu ciri yang mendefinisikan hakikat manusia yaitu bagian dari sejarahnya meliputi keseluruhan sejarah.
Teknologi, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat dengan sains (science) dan perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, teknologi mengandung dua dimensi, yaitu science dan engineering yang saling berkaitan satu sama lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata sekitar kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang materi dan energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya.

Definisi mengenai sains menurut Sardar adalah sarana pemecahan masalah mendasar dari setiap peradaban. Tanpa sains, lanjut Sardar suatu peradaban tidak dapat mempertahankan struktur-struktur politik dan sosialnya atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat dan budayanya. Sebagai perwujudan eksternal suatu epistemologi, sains membentuk lingkungan fisik, intelektual dan budaya serta memajukan cara produksi ekonomis yang dipilih oleh suatu peradaban. Pendeknya, sains, jelas Sardar adalah sarana yang pada akhirnya mencetak suatu peradaban, dia merupakan ungkapan fisik dari pandangan dunianya. Sedangkan rekayasa, menurut Djoyohadikusumo menyangkut hal pengetahuan objektif (tentang ruang, materi, energi) yang diterapkan di bidang perancangan (termasuk mengenai peralatan teknisnya). Dengan kata lain, teknologi mencakup teknik dan peralatan untuk menyelenggarakan rancangan yang didasarkan atas hasil sains.

Seringkali diadakan pemisahan, bahkan pertentangan antara sains dan penelitian ilmiah yang bersifat mendasar (basic science and fundamental) di satu pihak dan di pihak lain sains terapan dan penelitian terapan (applied science and applied research). Namun, satu sama lain sebenarnya harus dilihat sebagai dua jalur yang bersifat komplementer yang saling melengkapi, bahkan sebagai bejana berhubungan; dapat dibedakan, akan tetapi tidak boleh dipisahkan satu dari yang lainnya (Djoyohadikusumo).

Makna Teknologi, menurut Capra seperti makna ‘sains’, telah mengalami perubahan sepanjang sejarah. Teknologi, berasal dari literatur Yunani, yaitu technologia, yang diperoleh dari asal kata techne, bermakna wacana seni. Ketika istilah itu pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris di abad ketujuh belas, maknanya adalah pembahasan sistematis atas ‘seni terapan’ atau pertukangan, dan berangsur-angsur artinya merujuk pada pertukangan itu sendiri. Pada abad ke-20, maknanya diperluas untuk mencakup tidak hanya alat-alat dan mesin-mesin, tetapi juga metode dan teknik non-material. Yang berarti suatu aplikasi sistematis pada teknik maupun metode. Sekarang sebagian besar definisi teknologi, lanjut Capra menekankan hubungannya dengan sains. Ahli sosiologi Manuel Castells seperti dikutip Capra mendefinisikan teknologi sebagai ‘kumpulan alat, aturan dan prosedur yang merupakan penerapan pengetahuan ilmiah terhadap suatu pekerjaan tertentu dalam cara yang memungkinkan pengulangan.

Akan tetapi, dijelaskan oleh Capra teknologi jauh lebih tua daripada sains. Asal-usulnya pada pembuatan alat berada jauh di awal spesies manusia, yaitu ketika bahasa, kesadaran reflektif dan kemampuan membuat alat berevolusi bersamaan. Sesuai dengannya, spesies manusia pertama diberi nama Homo habilis (manusia terampil) untuk menunjukkan kemampuannya membuat alat-alat canggih.

Dari perspektif sejarah, seperti digambarkan oleh Toynbee (2004, 35) teknologi merupakan salah satu ciri khusus kemuliaan manusia bahwa dirinya tidak hidup dengan makanan semata. Teknologi merupakan cahaya yang menerangi sebagian sisi non material kehidupan manusia. Teknologi, lanjut Toynbee (2004, 34) merupakan syarat yang memungkinkan konstituen-konstituen non material kehidupan manusia, yaitu perasaan dan pikiran , institusi, ide dan idealnya. Teknologi adalah sebuah manifestasi langsung dari bukti kecerdasan manusia.

2.2. Ciri-ciri fenomena teknik pada masyarakat
Fenomena teknik pada masyarakat kini, menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagia berikut :
1. Rasionalistas, artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional.
2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis. Demikian juga dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis menjadi kegiatan teknis
4. Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
5. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung
6. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
7. Otonomi artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.

2.3. Ciri-ciri teknologi barat
Ciri – cirri teknologi barat adalah sebagai berikut :
1. Bersifat Intensif pada semua kegiatan manusia
2. Cenderung bergantung pada sifat ketergantungan
3. Selalu berpikir bahwa barat adalah pusat dari segala teknologi

3. Kemiskinan

3.1. Pengertian kemiskinan
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal :
1. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
2. Posisi manusia dalam lingkungan sekitar
3. Kebutuhan objectif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat istiadat dan sistem nilai yang dimiliki.

3.2. Ciri-ciri manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan
Mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Tidak memiliki factor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan, dll.
2. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan ataua modal usaha.
3. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai taman SD
4. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas.
5. Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan.

3.3. Fungsi kemiskinan
Pertama, kemiskinan menyediakan tenaga kerja untuk pekerjaan-pekerjaan kotor, tak terhormat, berat, berbahaya, namun dibayar murah. Orang miskin dibutuhkan untuk membersihkan got-got yang mampet, membuang sampah, menaiki gedung tinggi, bekerja di pertambangan yang tanahnya mudah runtuh, jaga malam. Bayangkan apa yang terjadi bila orang miskin tidak ada. Sampah bertumpuk, rumah dan pekarangan kotor, pembangunan terbengkalai, Banyak kegiatan ekonomi yang melibatkan pekerjaan kotor dan berbahaya yang memerlukan kehadiran orang miskin.

Kedua, kemiskinan memperpanjang nilai-guna barang atau jasa. Baju bekas yang tak layak pakai dapat dijual (diinfakkan) kepada orang miskin, termasuk buah-buahhan yang hampir busuk, sayuran yang tidak laku, Semuanya menjadi bermanfaat (atau dimanfaatkan) untuk orang-orang miskin.

Ketiga, kemiskinan mensubsidi berbagai kegiatan ekonomi yang menguntungkan orang-orang kaya. Pegawai-pegawai kecil, karena dibayar murah, mengurangi biaya produksi dan akibatnya melipatgandakan keuntungan. Petani tidak boleh menaikkan harga beras mereka untuk mensubsidi orang-orang kota.

Keempat, kemiskinan menyediakan lapangan kerja. Karena ada orang miskin, lahirlah pekerjaan tukang kredit, aktivis-aktivis LSM yang menyalurkan dana dari badan-badan internasional, dan yang pasti berbagai kegiatan yang dikelola oleh departemen sosial. Tidak ada komoditas yang paling laku dijual oleh Negara Dunia Ketiga di pasar internasional selain kemiskinan.
Kelima, memperteguh status sosial orang kaya. Keenam, bermanfaat untuk jadi tumbal pembangunan. Supaya tidak menganggu ketertiban dan keindahan kota, pedagang kakilima bila mengganggu lalulintas ditertibkan (ditangkap, dagangannya diambil, dan kerugiannnya tidak diganti).

Kemiskinan menurut orang lapangan (umum) dapat dikatagorikan kedalam tiga unsure :

1. Kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun mental seseorang
2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam
3. Kemiskinan buatan. Yang relevan dalam hal ini adalah kemiskinan buatan, buatan manusia terhadap manusia pula yang disebut kemiskinan structural. Itulah kemiskinan yang timbul oleh dan dari struktur-struktur buatan manusia, baik struktur ekonomi, politik, sosial maupun cultural. Selaindisebabkan oleh hal – hal tersebut, juga dimanfaatkan oleh sikap “penenangan” atau “nrimo”, memandang kemiskinan sebagai nasib, malahan sebagai takdir Tuhan. Kemiskinan menjadi suatu kebudayaan atau subkultur, yang mempunya struktur dan way of life yang telah turun temurun melalui jalur keluarga. Kemiskinan (yagn membudaya) itu disebabkan oleh dan selama proses perubahan sosial secara fundamental, seperti transisi dari feodalisme ke kapitalisme, perubahan teknologi yang cepat, kolonialisme, dsb.obatnya tidak lain adalah revolusi yang sama radikal dan meluasnya.

B. Hubungan Iptek dan Kemiskinan

Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini dari tahun ke tahun, dan dari hari ke hari semakin berkembang pesat. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi sangatlah bermanfaat untuk kepentingan kehidupan kita. Untuk segala sesuatu iptek selalu pergunakan. Apakah dengan lebih maju dan berkembangnya IPTEK akan memotivasi manusia untuk lebih maju lagi ? Apakan IPTEK mudah untuk didapatkan ? Adakah hubungannya IPTEK dengan kemiskinan ?
Ilmu pengetahuan haruslah dapat dikemukakan, harus dimegerti secara umum sehingga kita dapat memahami ilmu pengetahuan dengan mudah. Didalam kehidupan kita, kita tidak pernah terlepas dengan manfaat ilmu pengetahuan. Kita manusian memiliki akal pikiran yang merupakan dasar adanya ilmu pengetahuan. Dengan ini pula dapat mempermudah kita untuk melalukan sesuatu atau menghasilkan sesuatu. Ilmu pengetahuan sangatlah berguna bagi kita semua. Hal yang bersifat negatif maupun positif tidak terlepas dari segala sesuatu, begitu pula dengan IPTEK. Teknologi akan dapat berguna jika dimanfaatkan dengan baik. IPTEK tentunya dapat memotivasi masyarakat untuk lebih maju lagi. Karena iptek sungguh sangat menarik perhatian. Perkembangan yang terjadi sekarang ini dapat menjadikan masyarakat memiliki pandangan atau wawasan yang lebih luas. Iptek berkembang dengan sendirinya tentunya dengan dikembangkan oleh orang-orang yang berpengalaman. Iptek sangat lah mudah untuk didapatkan, dimana pun dan kapan pun kita dapat memperoleh iptek. Itu pula jikalau kita menginginkan nya.
IPTEK pula tidak terlepas dari kemiskinan dan kemiskinan tidak telepas pula dari kehidupan masyarakat. Kemiskinan dalam bidang ekonomi selalu menjadi kendala di negara-negara berkembang. Sangat sulit negara untuk memberantas kemiskinan. Sebenarnya jika kita semua memanfaatkan iptek maka kita semua dapat memberantas kemiskinan yang ada. Tidak akan ada lagi pengamen, pengemis, dan pekerjaan yang lainnya yang tidak layak terjadi. Kemiskinan terjadi karena rendahnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta pendidikan yang rendah.
Semua dapat teratasi dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan tekat yang kuat kita akan dapat mencapai kesejahteraan. Untuk mencapai kesejahteraan tidaklah diukur dengan harta benda yang kita miliki, kedudukan, dan kekuasaan tetapi dengan niat yang tulus dan keinginan yang besar untuk mendapatkan titik tertinggi.

Sumber :
https://abiand.wordpress.com/tugas/8-ilmu-pengetahuan-teknologi-dan-kemiskinan/
http://rizbone.blogspot.com/2010/03/hubungan-iptek-dan-kemiskinan.html
http://tyomulyawan.wordpress.com/keterkaitan-ilmu-pengetahuanteknologi-dan-kemiskinan/